Drumer Blink-182, Travis Barker mengumumkan dalam sebuah posting Facebook bahwa ia akan merilis buku memoar pada 24 Juni 2014. Barker mengaku proses penulisan buku tersebut adalah terapi baginya.

"Menjadi 'bersih' adalah kebangkitan terbesar saya. Saya sedang mengerjakan memoar dan itu mengagumkan. Mengerjakannya menjadi sebuah buku adalah terapi bagi saya dan mudah-mudahan dapat menginspirasi banyak orang," ungkapnya.

Buku ini bakal mengupas tuntas kehidupan Travis. Dari status mega-bintang yang ia dapatkan lewat Blink-182, dan kecelakaan pesawat yang hampir merenggut nyawanya beberapa tahun lalu.

Sumber : http://www.hai-online.com/

Musik Lamb Of God memang garang. Konser mereka pun penuh dengan moshing, wall of death, dan hal khas metal lain. Tapi walau terkesan sangar dan penuh kekerasan, personel LOG, Chris Adler sangat percaya bahwa musik apapun adalah sarana menuju kedamaian.
"Musik secara umum benar-benar dapat membuat orang bergandengan tangan," kata drummer tersebut. "Musik bisa membuat kita melewati perbedaan yang kita miliki, dan menemukan kesamaan tampaknya menjadi ide yang lebih baik dari sekedar membicarakannya, seperti berita."
Chris nggak mau lebay kayak komentar musisi lain tentang musik. "Musik tidak akan menyelamatkan dunia, tentu, tapi mendengarkan musik adalah salah satu cara yang dapat mendamaikan kita," ucapnya.

Sumber : http://www.hai-online.com/

Para robot kini tak hanya memasuki industri manufaktur, tetapi juga industri musik. Para robot ini menamakan grup musik mereka sebagai Z-Machines.

Grup musik ini terdiri atas robot gitaris yang memiliki 78 jari, robot drummer yang memiliki 22 lengan, serta robot pianis yang menembakkan laser ke keyboard. Mereka semua dirancang hingga terlihat memiliki tubuh dan kepala.

Tentu saja, robot-robot ini diciptakan oleh manusia. Pembuatnya adalah komposer asal Inggris, Tom Jenkinson yang juga dikenal dengan nama Squarepusher. Ia berkolaborasi dengan tim ahli robotika asal Jepang yang dipimpin Kenjiro Matsuo.

Jenkinson dan Matsuo membuat sebuah sistem kompleks serta menyusun kode pemrograman agar robot-robot tersebut dapat memainkan alat musik secara detail dan menciptakan harmonisasi.

"Dalam proyek ini, instrumen akrab digunakan dalam cara-cara yang hingga saat ini dianggap tidak mungkin," kata Jenkinson.

Ia menjelaskan, setiap perangkat robot yang terlibat dalam pertunjukan musiknya memiliki spesifikasi tersendiri yang memiliki kemampuan tertentu.

"Robot yang memainkan gitar, misalnya, bisa bermain jauh lebih cepat ketimbang manusia, tetapi ia tidak mampu mengontrol amplitudo," terang Jenkinson.

Jenkinson dan Matsuo telah membuatkan album untuk grup musik Z-Machines ini, dan rencananya akan dirilis pada 8 April 2014. Mereka juga telah memiliki satu video musik yang digarap oleh sutradara Daito Manabe.

Sumber : http://tekno.kompas.com/

MAKASSAR - Donny ADA Band mengungkapkan kelompok musiknya saat ini mulai sibuk meladeni berbagai undangan manggung di pentas-pentas seni (pensi) yang digelar di sekolah- sekolah.

Kata dia, setelah mengusung konsep musik berbeda, band nya pun memiliki image baru di dunia musik tanah air.

Menurut Donny, walau di awal-awal banyak yang kurang sepakat dengan metamorfosa bandnya namun sejak awal niatnya memberikan sentuhan berbeda dengan lebih memperkaya penampilan.

"Kami ketiban rejeki dari acara pensi-pensi sekolahan setelah konsep baru dan ini anugerah,"kata Donny disela-sela penampilannya di Liquid Grand Clarion Hotel Makassar Sabtu (15/2/2014)dini hari tadi.

Sumber : http://www.tribunnews.com/



Jakarta (ANTARA News) - Primata bonobo bisa memahami dan mengikuti irama musik seperti manusia, sebuah temuan yang berimplikasi pada pemahaman tentang bagaimana kemampuan itu berkembang

Hasil studi tentang binatang yang berkerabat dekat dengan simpanse itu menunjukkan bahwa mereka punya kemampuan bawaan untuk mengikuti tempo dan menyelaraskan irama dengan orang yang melakukan percobaan.

"Bonobo sangat peka terhadap musik. Pendengaran mereka di atas rentang pendengaran kita," kata Patricia Gray, direktur program biomusik di University of North Carolina, Greensboro, seperti dilansir kantor berita Reuters.

Untuk studi, para peneliti merancang drum ramah-bonobo beresonansi tinggi yang mampu menahan tekanan 500 pound dari loncatan, kunyahan dan perilaku serupa kera lainnya.

Peneliti menabuh drum dengan tempo yang disukai bonobo, sekitar 280 ketukan per menit, atau seperti ketika manusia mengucapkan suku kata.

Kera-kera mengikuti ketukan itu menggunakan drum bonobo, kata Gray dan psikolog Edward Large pada pertemuan tahunan American Associatiom of the Advancement of Science.

"Itu bukan musik, kami memperlambat gerakan di bagian itu," kata Large.

Penelitian terkait yang dilakukan pada singa laut, yang tak punya kemampuan ritmis bawaan.

Hasilnya menunjukkan dengan latihan binatang itu bisa mengangguk-anggukkan kepala saat mendengar musik, kata ahli psikologi komparatif Peter Cook, yang mulai meneliti singa laut Ronan sejak mengikuti pendidikan master di University of California, Santa Cruz.

Para peneliti menduga kemampuan musikal dan ritmis manusia berevolusi untuk memperkuat ikatan sosial.

"Jadi, mungkin ada yang berpikir nenek moyang manusia dan bonobo memiliki sebagian kemampuan ini," kata Large.

Tambahan hasil penelitian pada singa laut menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengikuti ritme mungkin lebih luas lagi.

Gray dan Large mengatakan mereka akan melakukan studi untuk mengetahui apakah bonobo di alam liar juga melakukan sinkronisasi bersama kawanannya, saat mereka, misalnya, mengetuk-ngetuk pohon berlubang.

"Ini benar-benar koordinasi. Sekarang, kau bicara tentang interaksi sosial. Jika ritme otakmu bisa menyelaraskan diri dengan ritme otak orang lain, tentang semua itulah komunikasi itu," kata Large, yang melakukan riset bersama Gray di Jacksonville Zoo and Garden di Florida.


Sumber : www.antaranews.com/